Saat hari raya Idul Adha, umat Islam akan melaksanakan ibadah kurban dengan menyembelih hewan kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Cara Pembagian Daging Kurban dan Penyembelihan hewan kurban sendiri dilaksanakan selepas shalat Idul Adha (tanggal 10 Zulhijah). Bisa pula dilaksanakan pada hari tasyriq (tanggal 11-13 Zulhijah).

Hewan kurban yang telah disembelih kemudian dibagikan kepada yang membutuhkannya. Pembagian daging kurban sendiri mempunyai tata cara sesuai syariat Islam. Berikut ketentuannya Cara Pembagian Daging Kurban.  

Ketentuan Pembagian Daging Kurban

Ibadah kurban terdapat dua hukum yaitu sunah dan wajib. Perbedaan tersebut mempengaruhi bagaimana daging kurban itu dibagikan. 

Jika kurban wajib karena nadzar, maka semua daging kurban harus dibagikan kepada fakir miskin. Atau bisa juga tidak semuanya dibagikan kepada fakir miskin, namun tetap harus ada bagian untuk fakir miskin.

 Orang yang berkurban karena nazar maka tidak boleh memakan daging kurban tersebut. Jika orang yang berkurban tersebut ikut makan, maka wajib baginya untuk mengganti sesuai bagian yang dimakannya.

Namun jika melaksanakan kurban yang sunah maka daging kurban dibagikan tidak dengan syarat sesuatu apapun, namun tetap ada ketentuan sebagai berikut:

  • Shohibul Qurban beserta Keluarganya

Seorang yang berkurban boleh memakan daging kurban maksimal 1/3 bagian. 1/3 bagian tersebut bukan hanya milik yang berkurban namun beserta keluarganya. Sedangkan 2/3 sisanya diberikan kepada pihak lain.

Daging kurban juga tidak boleh dijual baik dalam bentuk daging, bulu maupun kulitnya. Hendaknya orang yang berkurban, keluarga maupun kerabatnya tidak berlebihan dalam mengambil bagiannya. Karena tujuan dalam beribad kurban adalah bersedekah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

  • Sahabat, Kerabat, dan Tetangga

Sepertiga bagian selanjutnya adalah diberikan kepada sahabat, kerabat, dan tetangga sekitar. Beberapa berpendapat, walaupun yang akan dibagikan merupakan orang yang berkeckupan, mereka tetap berhak mendapat bagian tersebut.

  • Fakir Miskin, Yatim Piatu dan Duafa 

Fakir miskin, yatim piatu dan duafa mendapatkan sepertiga bagian yang lainnya. Golongan ini merupakan yang paling membutuhkan, sehingga akan lebih baik jika bagiannya ditambah. 

Cara Pembagian Daging Kurban untuk tiga golongan tersebut sebenarnya tidaklah harus. Yang terpenting seorang yang berkurban telah mengambil bagiannya. Karena semakin banyak yang dikeluarkan, maka semakin banyak pahalanya. 

Hadis Mengenai Pembagian Kurban

Seperti yang dijelaskan diatas, melaksanakan ibadah kurban karena nadzar hukumnya wajib dan orang tersebut juga tidak boleh memakan daging kurban. Salah satu rujukannya adalah penjelasan dari Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, dalam kitab Hasyiyah I’anah at-Thalibin:

“Haram mengonsumsi kurban dan hadiah yang wajib sebab nazar. Maksudnya, haram bagi orang yang berkurban dan memberi hadia, mengonsumsi daging kurban dan yang wajib sebab nazar. Maka (dia) wajib menyedekahkan seluruhnya, termasuk tanduk dan kuku hewan. Jika dia mengonsumsi Sebagian dari hewan tersebut, maka wajib menggantinya dan diberikan pada orang fakir” (Juz 2, hlm.378)

Membagikan daging kurban kepada fakir miskin juga sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Hajj ayat 28 yang artinya:

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan, atas rezki yang Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebgahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir” (O.S Al-Hajj:28)

Melaksanakan ibadah kurban merupakan amalan yang agung karena selain mendekatkan diri kepada Alllah juga memperbaiki hubungan kepada sesama manusia. Untuk itu laksanakanlah dengan ikhlas dan penuh sukacita. 

Categories: Tips

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *